Airnav Lelang 150 Paket Infrastruktur Kenavigasian

JAKARTA – Lembaga Penyedia Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI/ Airnav Indonesia) menyatakan baru melelang sekitar 50% atau 150 paket pengadaan dari total 300 paket pengadaan infrastruktur kenavigasian senilai Rp 1,8 triliun pada tahun ini.

Direktur Utama Airnav Indonesia Bambang Tjahjono menargetkan, setengah porsi dari semua pengadaan yang dilakukan pihaknya itu tuntas dalam waktu dekat ini. Sementara sisanya, masih dalam tahap penyiapan dokumen untuk segera dilelangkan.

“Sebanyak 300 paket pengadaan senilai Rp 1,8 triliun untuk seluruh Indonesia. Sekitar 50nya sudah dalam proses lelang. Ini merupakan pengadaan oleh Airnav untuk yang pertama kalinya, yang terdiri dari alat-alat untuk navigasi, komunikasi, dan surveillance,” ujar Bambang di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Menurut dia, salah satu hal yang membuat proses pengadaan Airnav terkesan lama adalah pembentukan panita lelang yang baru dibentuk pada Maret 2015. Selain itu, Airnav juga perlu memastikan ketersesuaian jalannya pengadaan dengan regulasi yang ada.

Untuk memastikan transparansi setiap proses pengadaan, lanjut Bambang, LPPNPI meminta pendampingan kepada Kejaksaan Agung (Kejagung) untuk paket yang nilainya di atas Rp 100 miliar.

Sementara itu, Direktur Navigasi Penerbangan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Novie Riyanto sempat mengemukakan, pihaknya bersama Airnav akan melakukan modernisasi infrastruktur kenavigasian di 54 bandara di wilayah Papua.

Novie menjelaskan, beberapa bandara di pulau paling timur itu sebenarnya sudah menunjang untuk penerbangan instrumen, tetapi sejumlah bandara lainnya perludimodernisasi,dariyangsaat ini masih mengandalkan visual.

“Ini bukan berarti penerbangan visual itu dilarang. Tetapi guna meningkatkan keselamatan, maka 54 bandara di Papua perlu dikoneksikan secara menyeluruh sehingga menunjang penerbangan instrumen. Kami kejar tahun ini, itu semua bisa direalisasikan,” jelas dia.

Dia mencontohkan, infrastruktur kenavigasian antara Bandara Sentani, Jayapura sudah lengkap dan modern. Tetapi, peralatan di Bandara Oksibil, Pegunungan Bintang masih perlu ditingkatkan lagi. Di bandara itu, alat kenavigasian, mulai dari navigasi, komunikasi, hingga surveillancemasih banyak mengandalkan infrastruktur klasik, seperi NDB, VOR, dan radio VHF. (esa)

Investor Daily, Senin 24 Agustus 2015, Hal. 6