BIJB Gerbang 5 Benua, Ensiklopedia Jawa Barat

Tidak hanya berfungsi sebagai gerbang angkasa menuju lima benua, Bandarudara Internasional Jawa Barat (BIJB) yang sedang didirikan di Kertajati, Kabupaten Majalengka, sekaligus akan menjadi landmark perwujudan kemajuan peradaban arsitektur serta ensiklopedia budaya Jawa Barat.

Seperti bandara-bandara lain yang didirikan di era milenium, bangunan-bangunan BIJB dirancang menggunakan bahan baku metal, baja, dan kaca.

Konsep keterbukaan berupa penggunaan kaca-kaca yang lebar dan tinggi pada bangunan Terminal Penumpang BIJB contohnya, menjadi ciri khas bangunan modern kontemporer yang bersifat terbuka dan tanpa batas.

Tidak sekedar menjadi karya arsitektur modern yang menggunakan teknologi terkini, Terminal Penumpang BIJBternyata akan menjadi ensiklopedia budaya Jawa Barat.

Di Terminal Penumpang BIJB, berbagai unsur khas Jawa Barat menyatu dalam detai-detail bangunan tersebut secara langsung.

Dimulai dengan atap Terminal Penumpang BIJB. Walau terbuat dari deretan baja, bentuk atap ini ternyata terinspirasi dari bentuk merak, yakni hewan endemis Jawa Barat.

Jika dilihat dari samping, bagian mirip kepala merak ada di bagian depan, lekuk punggungnya ada di bagian tengah, dan ekornya ada di bagian belakang yang mengarah ke lapangan parkir pesawat.

Jika dilihat dari atas, terdapat deretan atap berbentuk seperti deretan bulu ekor unggas bernama latin Pavo muticus tersebut di bagian tengah.

Bagian mata pada masing-masing bulu tersebut tertransformasi menjadi lingkaran tembus pandang dengan kaca berwarna-warni yang membiaskan cahaya matahari ke dalam ruangan menjadi berbagai warna.

Atap termilan penumpang merupakan deretan bentangan mega span dengan panjang 96 meter.

Jika dilihat dari sisi depan, ujung atap ini akan terlihat seperti deretan atap dengan finial silang khas atap rumah sunda.

Sebagian besar tiang silinder di lantai satu dan dua terminal ini pun dilapisi alumunium bercorak kayu jati.

Pohon jati memang banyak ditemukan di Majalengka, tempat BIJB didirikan, dan di sepanjang kawasan utara Jawa Barat.

Sedangkan tiang-tiang lainnya yang langsung bersentuhan dengan atap berbentuk seperti batang pohon kelapa atau palem.

Hutan pohon jati pun menginspirasi bentuk bagian Tourist Information Center di dalam terminal. Walaupun sepintas berbentuk bulat seperti telur dan berwarna putih, Tourist Information Center ini memiliki detail deretan pohon jati yang melengkung, sampai membentuk seperti telur.

Corak-corak pepohonan pun banyak dijumpai di beberapa bagian bangunan lainnya, seperti Quite Room untuk tempat tidur penumpang.

Ciri khas Jawa Barat lainnya yang kental menghiasi Terminal Penumoang BIJB adalah motif batik.

Motif batik mega mendung khas Cirebon contohnya, akan menghiasi bagian atas tempat registrasi tiket dan bagasi.

Corak batik lainnya dituangkan dalam bentuk berbagai hiasan di aula tunggu penumpang, bertebaran seperti ornamen-ornamen berbentuk bulu merak di bagian dalam terminal penumpang.

Di luar Terminal Penumpang BIJB, terdapat menara, menara pengatur lalu lintas pesawat yang dimiliki BIJB begitu berbeda dengan menara bandara lainnya.

Ikon khas masyarakat dan pemerintah Jawa Barat, yakni kujang, terlihat seperti melilit menara yang dioperasikan AirNav Indonesia.

“Sedapat mungkin kami menghadirkan desain yang mencerminkan Jawa Barat di bandara ini. Seperti motif pohon jati yang melapisi tiang-tiang terminal penumpang. Pohon jati memang banyak terdapat di Majalengka. Sampai atap yang berbentuk burung merak, karena merak adalah burung khas Jawa Barat,” kata Direktur Utama PT BIJB Virda Dimas Ekaputra di Bandung, Senin (20/11).

Virda mengatakan dirinya pun berencana membuat taman dengan menghadirkan sejumlah merak di dalamnya.

 

Taman yang akan diberi nama Taman Merak tersebut akan didirikan di bagian depan Terminal Penumpang BIJB.

Tentu saja, upaya menghadirkan merak di taman tersebut dijalani dengan memproses perizinannya mengingat merak adalah hewan yang dilindungi.

Tidak hanya menghadirkan ciri khas Jawa Barat dalam setiap detail bangunannya, BIJB pun berupaya melayani kebutuhan rohani masyarakat Jawa Barat yang mayoritas beragama Islam.

Bertekat menjadi bandara yang ramah halal traveler, di bandara ini akan didirikan sejumlah musala dengan arah kiblat dan tempat wudu yang bersertifikat.

Tidak sampai di fasilitas ibadah, terminal penumpang ini akan menyediakan lounge gratis untuk jamaah umrah seluas 565 meter persegi dan lounge berbayar untuk jamaah umrah seluas 750 meter persegi.

Bandara ini memang sangat diharapkan oleh Presiden RI untuk menjadi tempat pemberangkatan haji dan umrah, dimulai 2018.

Secara keseluruhan, BIJB menghadap ke arah Barat Laut, dengan kata lain BIJB ini menghadap ke arah kiblat, yakni ke arah Kabah di Mekah, Arab Saudi.

Hal inilah yang dapat menjadi kebanggaan masyarakat Jawa Barat yang sebagian besar beragama Islam.

Dalam konferensi pers di BIJB di Majalengka, Senin (13/11), Virda mengatakan BIJB dipastikan siap untuk dioperasikan dalam soft launching pada April 2018 dan grand launching pada Juni 2018.

Hal ini berkaca dari proses yang sudah dicapai secara keseluruhan yakni 67,5 persen per 5 November 2017, dan rencananya rampung Januari 2018.

 

Virda mengatakan dari tiga paket yang dikerjakan para kontraktor untuk bagian sisi darat, seluruhnya sudah berjalan sesuai rencana.

Bahkan paket satu yang meliputi pembangunan infrastruktur oleh PT Adhi Karya Tbk sudah mendekati sempurna atau 98,7 persen.

Paket satu ini sendiri meliputi pengerjaan infrastruktur bandara seperti jalan, drainase, lansekap parkir, dan ramp simpang susun.

Area ramp simpang susun ini pengerjaannya sudah mencapai 100 persen. Sisa pengerjaan paket satu akan rampung akhir November ini.

Selanjutnya, kata Virda, paket dua meliputi pembangunan gedung terminal penumpang yang dikerjakan PT Wijaya Karya (Wika) dan PT Pembangunan Perumahan (PP) dengan capaian pekerjaannya sudah mencapai 53,8 persen.

Lingkup yang dikerjakan pengembang yakni berupa interior, atap utama, eletrikal and plumbing, atap boarding lounge, bird eye view, dan arsitektur kom ACP.

Pembangunan beberapa fasilitas interior terminal tiga lantai juga sudah cukup menggembirakan. Berdasarkan fakta di lapangan, area lantai satu secara fisik sudah 95 persen.

Area tersebut lebih cepat selesai karena dibangun secara pararel dan tidak terpengaruh cuaca.

Fasilitas yang akan diberi PT BIJB di area terminal komersial yakni aircraft simulator, airport miniatur, tourism gallery, quite room, VIP lounge, sampai umroh dan haji lounge yang disiapkan dengan luasan sampai 1.300 meter persegi.

Area terminal penumpang saat ini tengah fokus pada pemasangan atap yang berada di lantai tiga. Atap dengan bentangan 96 meter cukup menantang karena bentuk yang menyerupai ekor burung merak sebagai ikon bandara.

Struktur atap terminal utama penumpang menggunakan sisten mega span dengan penutup membran.

“Elemen yang bersifat elastis ini diambil dari akar dan nilai budaya Jawa Barat. Bentuk dan teknologinya baru pertama kali dipakai di bandara di Indonesia,” ujar Virda seraya menyebut BIJBbaru saja resmi mendapatkan 3 letters code dengan kode ‘KJT’, dalam konferensi pers di BIJB di Majalengka, Senin (13/11/2017).

Adapun untuk paket tiga meliputi pembangunan gedung operasional yang dikerjakan PT Waskita Karya yang sudah hampir mendekati sempurna dengan 90,8 persen.

PT Waskita diberi tanggung jawab untuk mengerjakan sarana penunjang operasional bandara berupa incenerator, meteorologi, ground water tank, jalan kawasan, sub station, dan perangkat keamanan kebakaran bandara.

‎Kesiapan fasilitas lain dari BIJB dilakukan oleh multipihak.

Fasilitas bahan bakar pesawat untuk hydrant pit dari Pertamina sudah siap 100 persen.

Selanjutnya pembangunan tower sebagai fasilitas navigasi penerbangan yang dioperasikan Airnav sudah mencapai 82 persen.

Lainnya fasilitas dari BMKG sudah mencapai 99 persen, penyambung air bersih sudah mencapai 95 persen, dan penyambungan listrik mencapai 96 persen.

‎Runway sarana paling penting untuk take of dan landing pesawat, katanya, nantinya akan dibentangkan sampai 3.500 meter oleh Kementrian Perhubungan saat ini progresnya sudah mencapai 90 persen.

Dengan panjang runway tersebut, mempertegas bahwa kehadiran BIJB bisa didarati pesawat berbadan lebar seperti boeing 747. 

 

 

Sumber : http://jabar.tribunnews.com/2017/11/20/bijb-gerbang-5-benua-ensiklopedia-jawa-barat