Dome ‘Jati’ Pengisi Ruang Bandara Kertajati

MAJALENGKA, – Sebagai bandara bertaraf internasional, Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Kecamatan Kertajati, Majalengka ini tetap tidak mau kehilangan jati dirinya. Berdiri di tanah leluhur pasundan estetika kearifan lokal tidak dihilangkan.

Sebut saja nuansa merak yang menjadi ikon bandara terimplementasikan langsung lewat atapnya. Lainnya adalah ornamen kujang yang melekat dibangunan menjulang tinggi di Air Traffic Control (ATC) milik AirNav Indonesia. Dan area interior, terjemahkan juga identitas Kecamatan Kertajati yang memang dulunya banyak tertanam pohon jati.

Ya, sebelum area Bandara Kertajati ini berdiri, dulunya pohon jati cukup mendominasi. PT BIJB selaku pelaksana pembangunan bandara menginginkan identitas tersebut bisa tetap hadir. Bersama Kuswa Budiono akhirnya BIJB menyepakati untuk menghadirkan desain dome yang eksklusif dengan nuansa jati.

Dome ini berbentuk oval. Lebih menyerupai potongan telur. Ada empat dome yang berdiri diarea cek-in hall lantai tiga terminal. Dome ini nantinya bisa menjadi titik kumpul orang sebelum melakukan penerbangan. Lewat dome orang akan ternaungi.

Satu dome memiliki diameter sembilan meter dengan tinggi enam meter. Empat dome akan membentuk satu kesatuan yang dilengkapi tempat duduk. Di tempat inilah calon penumpang bisa menunggu sambil melihat sentuhan seni milik Kuswa yang merupakan seniman asal dari Majalengka ini.

“Kan di lingkungan ini banyak pohon jati. Kenapa enggak dicoba dengan sentuhan jati, jadi dicoba dengan menggunakan (ornamen) pohon jati. Diotak atik dirancang akhirnya bisa dibuat dome,” kata Kuswa.

“Karena dome itu sifatnya menaungi maka terjadi distorsi terhadap pohon jatinya yang mana ini nantinya difungsikan untuk menjadi semacam area titik kumpul,” lanjut pria jebolan seni murni Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut.

Sekadar diketahui, pohon jati sendiri saat ini banyak dieksplorasi karena bisa menghasilkan kayu kelas wahid karena kekuatan, keawetan dan keindahannya. Nilai-nilai itu juga yang kemudian diterjemahkan Kuswa untuk menjadikan ‘jati’ yang diolah secara handmade dengan bantuan mesin cetak bisa teraplikasi di bandara ini.

Proses pembuatannya diambil dari bahan lunak seperti malam untuk kemudian dikonversi ke bentuk resin. Resin ini dibentuk ke dalam cetakan keras secara massal dengan balutan fiberglass rainforced plastic (FRP). Dengan jumlah 3.000 cetakan berbentuk daun pohon jati, lalu dilanjutkan pengerasan. Setelah pengerasan barulah dilanjutkan dengan penempelan hingga membuat barang bernilai seni tinggi.

Pria kelahiran 5 September 1954 ini berharap, sesuai dengan filosofinya dome disediakan ini bukan hanya saja menjadi pemanis ruang kosong dengan sentuhan seni, tapi bisa menjadi ruang interaksi antar manusia. Ini dimaknakan sebagai fungsi sosial dari hadirnya pohon jati diarea interior ini.

Kuswa menargetkan, pengerjaan dome ini bisa selesai pada April 2018 ini. Artinya aplikasi pohon jati tersebut bisa dinikmati warga ketika bandara beroperasi pada Mei nanti. “Bulan ini harusnya bisa selesai,” ungkap seniman bergenre tradisional kontemporer./ HUMAS BIJB