DPR Dorong Pengintegrasian Transportasi Kereta Api atau Bus Menuju Bandara Kertajati

BANDUNG, (TRIBUNJABAR), – DPR RI mendorong pengintegrasian infrastuktur transportasi, baik berupa jalan, rel, sekaligus trayek transportasi umum untuk memudahkan akses dari berbagai titik di Jawa Barat menuju Bandarudara Internasional Jawa Barat (BIJB) atau Bandara Kertajati di Kabupaten Majalengka.

Anggota Komisi X DPR RI, Ledia Hanifa Amaliah, mengatakan pemerintah memberikan perhatian khusus terhadap Bandara Kertajati yang rencananya dioperasikan pada Juni 2018.

Akan sangat disayangkan, katanya, jika bandara terbesar kedua di Indonesia setelah Bandara Soekarno Hatta ini, tidak terintegrasi dengan baik dengan berbagai akses transportasi.

“Semuanya harus terintegrasi, supaya niat Pak Gubernur untuk menjadikan Bandara Kertajati sebagai akses transportasi udara warga Jawa Barat, dan akses masuk masyarakat luar Jawa Barat, bisa terealisasi dengan baik,” kata Ledia di Bandung, Sabtu (14/4).

Ledia mengatakan sampai saat ini, tidak banyak transportasi umum yang dapat digunakan warga dari Bandung Raya, Priangan Timur, bahkan dari Cirebon Raya ke Kertajati.

Ledia mengatakan DPR RI akan mendorong BUMN, seperti Perum Damri untuk membuat trayek baru dari Bandung, Cirebon, dan Priangan Timur ke Kertajati.

Ledia berharap pemerintah pusat bisa membuat Bandara Kertajati seperti Bandara Kuala Namu di Sumatra Utara dan Bandara Soekarno Hatta di Cengkareng yang terhubung dengan rel kereta api. Hal ini akan semakin meningkatkan peran Bandara Kertajati sebagai bandara utama di Jawa Barat yang terakses dengan mudah.

“Kami harap realisasi pengadaan akses kereta ke Kertajati melalui rel jalur Pantura, segera terlaksana. Kalau kereta cepat dari Bandung sepertinya akan susah karena harus menembus pegunungan. Cukup dari jalur Pantura atau Cirebon, dibuat akses ke bandara,” katanya.

Ledia mengatakan keberadaan Bandara Kertajati ini harus dimanfaatkan dengan baik oleh pemerintah provinsi maupun kabupaten dan kota di Jawa Barat untuk menarik minat wisatawan luar Jawa Barat, termasuk mancanegara, untuk berwisata di Jawa Barat.

“Kami memastikan dinas-dinas pariwisata membuat paket-paket wisata untuk dinikmati dari akses Kertajati. Contohnya membuat track wisata dari Kertajati ke Cirebon, Kuningan, Ciamis, dan berakhir di Pangandaran,” katanya.

Kepastian akses transportasi dan akomodasi, katanya, menjadi kunci utama dalam menarik wisatawan untuk menikmati Jawa Barat. Jangan lupa, kata Ledia, Bandara Kertajati dan kawasan-kawasan pariwisata di Jawa Barat, harus menyiapkan akses teknologi infirmasi, yakni sinyal seluer yang kuat di wilayahnya.

“Kami melihat ada peluang yang sangat baik bagi perusahaan penyedia jasa angkutan atau wisata terkait dengan hadirnya Bandara Kertajati. Semoga pemerintah daerah bisa melakukan pendampingan supaya masyarakat sekitar tidak hanya jadi penonton, tapi pelaku,” katanya.

Sebelumnya, Manajer Bidang Teknik Unit Manajemen Proyek (UMP) PT BIJB Hidayat Effendi, mengatakan selain akan terkoneksi dengan akses jalan non-tol dari Jalan Raya Jatibarang-Kadipaten dan juga akses tol dari Tol Cipali, bandara ini akan terhubung dengan jalur rel Jakarta-Surabaya.

“Kami sudah menyediakan lahan untuk pembangunan rel kereta apinya di lingkungan bandara, langsung ke terminal penumpang. Pembangunan akses nontol masih berlangsung dan diharapkan akses tol segera dibuka,” kata Hidayat.

Menurut Hidayat, jalur kereta semicepat Jakarta-Surabaya bertemu dengan jaringan rel menuju Bandara Kertajati di Stasiun Jatibarang Cirebon. Pembangunan rel harus disertai dengan pembangunan beberapa terowongan dan jembatan dari Jatibarang menuju Kertajati.

Sumber : http://jabar.tribunnews.com/2018/04/14/dpr-dorong-pengintegrasian-transportasi-kereta-api-atau-bus-menuju-bandara-kertajati