Mengingat Pahlawan ‘Bandara’ di Indonesia dan Hadirnya Bandara Kertajati

Sederet nama bandara di Indonesia menyematkan nama-nama pahlawan sebagai identitas. Bukan hal yang berlebihan, jika nama seperti Soekarno-Hatta, Husein Sastranegara dan nama pahlawan lainnya menjadi identitas utama bandara di Kota Bandung.

Tepat dihari Pahlawan yang diperingati setiap 10 November, kita kembali ulas nama-nama pahlawan yang menjadi identitas terminal penerbangan di Indonesia. Ini sebagai pengingat bahwa kita jangan melupakan sejarah. Bukankah Bung Karno pernah mengatakan, “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah (Jas Merah)” ?

Pertama. Bandar Udara Internasional Soekarno–Hatta merupakan sebuah bandar udara utama yang melayani penerbangan untuk Jakarta, Indonesia. Bandara ini diberi nama sesuai dengan nama dwitunggal sang proklamator kemerdekaan Indonesia, Soekarno dan Mohammad Hatta, yang sekaligus merupakan Presiden dan Wakil Presiden Indonesia pertama. Dewasa ini, bandara yang berada di kawasan Cengkareng kini menjadi bandara paling sibuk ke delapan di dunia.

Bergeser ke Bandung. Ada Bandara Husein Sastranegara. Husein cukup berjasa di penerbangan Indonesia. Pasalnya Husein Sastranegara dalah salah satu perintis TNI-AU bersama dengan Agustinus Adisucipto, Halim Perdanakusuma, Abdulrahman Saleh dan Iswahyudi.  Dia wafat bersama ahli tehnik pesawat Sersan Mayor Udara Rukidi saat latihan dengan pesawat Cukiu yang jatuh di kampung Gowongan Lor, Yogyakarta pada 26 September 1946. Padahal sedianya pesawat cadangan untuk menjemput PM Sutan Sjahrir. Jasa Husein tidak lepas begitu saja. Namanya kini masih harum melalui gerbang penerbangan di Kota Kembang berdasarkan Keputusan Kasau No 76 Tahun 1952. Nama Husein menggantikan nama Pangkalan Udara Andir. Patungnya berdiri mencolok di Jalan Pajajaran sebelum masuk ke kawasan bandara.

Bergeser ke Surabaya. Nama Juanda begitu dikenal di Kota Pahlawan tersebut. Bandara internasional Juanda diambil dari nama Ir. Raden Haji Juanda Kartawijaya. Ia adalah Perdana Menteri Indonesia yang ke-10 sekaligus juga yang terakhir. Selanjutnya, Juanda menjabat sebagai Menteri Keuangan Indonesia dalam Kabinet Kerja I. Jasa terbesarnya saat duduk di kursi pemerintahan adalah Deklarasi Juanda tahun 1957. Deklarasi tersebut menyatakan wilayah laut Indonesia meliputi laut di sekitar, di antara, dan di dalam kepulauan Indonesia dan dikenal sebagai negara kepulauan.

Kemudian menuju Pulau Dewata. Nama Bandara Ngurah Rai dikenal begitu luas di kalangan mancanegara. Maklum Bali merupakan Provinsi tujuan wisata, terutama asal luar. Merunut sejarah, I Gusti Ngurah Rai adalah nama seorang pejuang Indonesia. Pahlawan yang berasal dari pulau dewata ini paling terkenal dengan pertempuran gerilya Puputan Margarana. Ngurah Rai wafat akibat serangan dua ribu pasukan Belanda dengan persenjataan lengkap. Pesawat yang ditumpangi dengan pasukan kecilnya diserang.

Selanjutnya Bandara Halim Perdanakusuma. Nama ini bukan sekedar nama. Bandar Udara Internasional Halim Perdanakusuma berada di Jakarta, Indonesia. Bandar udara ini sediannya digunakan sebagai markas Komando Operasi Angkatan Udara I (Koops AU I) TNI-AU. Menilik sejarah Bandara Halim mengambil nama dari Abdul Halim Perdanakusuma adalah seorang pahlawan nasional Indonesia yang lahir di Sampang, Madura. Ia meninggal di usia yang masih muda yaitu 25 tahun saat menjalankan tugas untuk negara pada masa perang Indonesia-Belanda. Halim adalah seorang penerbang yang ditugaskan untuk membeli dan membawa perlengkapan senjata dengan pesawat dari Thailand. Sekembalinya dari Thailand, pesawat yang dipenuhi berbagai senjata api tersebut ternyata jatuh. Tidak diketahui apa penyebabnya tapi kemungkinan karena cuaca buruk atau ditembak.

Tim penyelamat menemukan jasad Halim, tapi rekannya Iswahyudi tidak diketahui nasibnya. Meski bangkai pesawat ditemukan, namun berbagai perlengkapan senjata api yang telah dibeli tidak berhasil ditemukan dan entah ke mana rimbanya. Untuk menghormati jasa-jasanya, mereka kini telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Bandara Halim Perdanakusuma beroperasi sementara menjadi bandara komersial mulai tanggal 10 Januari 2014 untuk mengalihkan penerbangan dari Bandar Udara Internasional Soekarno–Hatta yang dinilai telah penuh sesak.

Menuju Yogyakarta atau tepatnya di Sleman ada Bandara Adi Sucipto (Adisutjipto). Luas bandara ini adalah sekitar 183 hektar. Nama bandara ini diambil dari nama pahlawan Agustinus Adisutjipto asal Salatiga yang gugur pada tahun 1947. Adisucipto merupakan pahlawan Dirgantara Indonesia. Ia gugur ditangan Agresi Militer Belanda I. Pesawat yang ditumpangi Adisucipto bersama sembilan lainnya pesawat Kittyhawk[2] milik Belanda yang diawaki oleh Lettu B.J. Ruesink dan Serma W.E. Erkelens. Akibatnya pesawat hilang kendali dan akhirnya pesawat jatuh di perbatasan Desa Ngoto dan Wojo dan langsung terbakar. Semua orang di pesawat meninggal dunia, hanya A. Gani Handonocokro yang berhasil selamat.

Selain nama tersebut, beberapa bandara di Indonesia bertaraf internasional juga menggunakan nama-nama pahlawan di Indonesia. Sebut saja Banda Aceh dengan Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda,  Pekanbaru dengan nama Bandar Udara Internasional Sultan Syarif Kasim II, Lalu Palembang dengan Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin, Bengkulu Bandar Udara dengan Fatmawati Soekarno dan masih banyak lainnya.

Sebagai negara yang ditakdirkan dengan ragam kepulaan, Indonesia memang membutuhkan banyak bandara untuk konektivitas. Jawa Barat sebagai provinsi terbesar kini membutuhkan bandara representatif untuk mengcover padatnya Soekarno-Hatta dan Husein Sastranegara. Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) bisa menjadi satu solusinya. Bandara yang akan beroperasi pada 2018 tersebut masih mencari nama.

Beberapa usulan nama sudah masuk ke meja Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan.  Apakah BIJB yang berada di kawasan Kertajati, Kabupaten Majalengka akan menggunakan nama pahlawan sebagai identitas ?

 

Kita tunggu saja!