Menhub Andalkan Bandara Kertajati dan Patimban Sebagai Pertumbuhan Industri Baru di Jawa Barat

Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengatakan, Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Kabupaten Majalengka, dan Proyek Pelabuhan Patimban, di Kabupaten Subang bisa menjadi industri pertumbuhan baru selain di Jakarta.
Kehadiran dua proyek strategis ini memang diproyeksikan memecah konsentrasi kepadatan industri yang selama ini terbebani di ibu kota.

Hal tersebut disampaikan Budi Karya Sumadi saat memberikan kuliah umumnya yang dihadiri sekitar 500 mahasiswa dari berbagai kampus, di Aula Barat, Institut Teknologi Bandung (ITB), Jalan Ganeca, Bandung, Rabu 15 November 2017. Beberapa pihak dari akademisi, pakar, praktisi, dan pejabat dari pemerintahan maupun swasta turut hadir.

“Dua infrastruktur laut dan udara yang sedang disiapkan ini akan menyelesaikan banyak masalah. Patimban akan menyelesaikan konsentrasi logisitik yang selama ini selalu di Jakarta dan akan kita alihkan ke Patimban,” kata Budi.

“Sedangkan (Bandara) Kertajati selama ini konsentrasi warga Jawa Barat ke Jakarta, sekarang menjadi pusat bandara baru di mana kita juga akan tetapkan haji asal Jakarta dan Jawa Barat ke sana semuanya,” tambah Budi dalam paparannya. Bandara Kertajati sendiri saat ini tengah dalam pengerjaan dimana target beroperasi bisa dilakukan dalam quartal I 2018 mendatang.

Oleh karena itu, Budi meminta, jebolan-jebolan mahasiswa ITB ini bisa memberi kontribusi nyata dalam pembangunan-pembangunan yang dilakukan pemerintah. Diperlu prakarsa dan dukungan dari kementerian Ristekdikti untuk mencipatkan terobosoan-terobosan baru. Saat ini dua proyek strategis nasional tersebut akan terus dikembangkan terutama Bandara Kertajati dengan kawasan aeorocitynya yang menjadi andalan pemerintah.

“Di sana banyak sekali konsep yang menunggu teman-teman dari ITB dengan berbagai kreatifitas dan untuk menyongsong bagian Jawa Barat bagian timur dengan pusat pertumbuhan baru. Ini akan kurangi kemacetan juga di Jakarta,” ucap Budi.

Dia menambahkan, pembangunan Bandara Kertajati yang sudah terencana sejak 2003 silam tersebut dipilih karena memang untuk mengurangi ketimpangan pembangunan yang selalu terpusat di ibu kota dan sekitarnya. Pemerintah saat itu bisa saja membuat bandara di Karawang yang secara geografis berdekatan dengan Jakarta dengan lahan yang masih luas.

“Kalau dipikir yang namanya pengembangan wilayah harus ada hal besar. Kalau komplementer kita cukup bangun di Karawang. Kalau mau daerah lain, Majalengka ini cukup ideal. Makannya kita tetapkan kereta cepat nanti Jakarta – Bandung – Kertajati. Yang penting suport kuat semua penduduk,” ucap Budi.

Dia menilai Karawang juga saat ini sudah menjadi pusat pertumbuhan industri yang pesat. Sehingga pembangunan harus mulai dialihkan ke daerah yang memang bakal memiliki potensi pertumbuhan baru dimasa yang akan datang. Hal ini sejalan dengan program nasional Nawacita tentang pemerataan.

“Karena nanti di situ bukan saja industri, pariwisata dan lain-lain itu jadi suatu hal nilai tambah Majalengka. Saya ingin sampaikan apa yang dilakukan di Kertajati kita komitmen dilakaukan. Ini banyak proyek yang sifatnya kolaboratif. Kalau dengan patimban akan komplementeri. Koridor ini akan menjadi kegiatan industri maju,” beber Budi dihadapan mahasiswa.

Kuliah umum ini terbuka untuk para undangan dan mahasiswa dari luar ITB.‎ Kuliah Umum kali ini akan diawali dengan acara penandatanganan Adendum Nomor 1 Kesepakatan Bersama antara Kemenhub dan ITB tentang pengembangan sumber daya manusia, teknologi, dan manajemen di bidang transportasi.

Kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan Nota Kesepahaman antara PT. MRT Jakarta dan ITB tentang kerjasama pendidikan dan penelitian. Penandatanganan Nota Kesepahaman dilakukan oleh Rektor ITB – Prof. Dr. Ir. Kadarsah Suryadi, DEA , dan Direktur Uama PT. MRT Jakarta – Dr. Ir. William P. Sabandar.