Penerbangan RI Peroleh Skor Tinggi Dari ICAO

JAKARTA – International Civil Aviation Organization (ICAO) memberikan skor tinggi dalam audit keamanan penerbangan Indonesia ( universal security audit program/USAP), yakni mencapai 94,92%. Nilai tersebut muncul setelah tim audit keamanan penerbangan ICAO melakukan validasi terhadap sembilan aspek terkait keamanan penerbangan, salah satunya adalah regulasi.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Suprasetyo mengatakan, audit tersebut sudah dilaksanakan tim audit keamanan ICAO pada 29 Oktober-5 November 2015. Saat melakukan pemeriksaan, tim dari ICAO juga melaksanakan audit lapangan terkait keamanan penerbangan di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang.

“Audit untuk security kita bagus, skornya 94,92%. Penilaian itu dilakukan untuk segala macam mulai dari regulasi, operasi, hingga lisensi sumber daya manusia (SDM),” kata Suprasetyo di Jakarta, akhir pekan lalu.

Dia menjelaskan, selain menandakan pembenahan sektor keamanan penerbangan yang kian membaik, skor tinggi itu juga bisa menjadi modal signifikan Indonesia untuk mengajukan kembali sebagai anggota dewan ICAO 2016-2019, yang dijadwalkan pemilihannya dilakukan pada September 2016.

Sebagaimana diketahui, anggota dewan ICAO itu terdiri atas 36 negara yang dipilih dari 191 negara anggota ICAO. Negara-negara anggota dewan dapat ikut serta dalam pertemuan komisi-komisi teknis untuk membahas regulasi baru yang akan dikeluarkan badan di bawah naungan PBB itu.Pemilihan negara-negara anggota dewan dilakukan melalui mekanisme pemilihan pada sidang umum secara ballot setiap tiga tahun sekali.

Di tempat yang sama, Direktur AngkutanUdara KemenhubMuzaffar Ismail mengatakan, Indonesia juga saat ini tengah menunggu validasi dari ICAO untuk skor keselamatan penerbangan nasional. Dia menjelaskan, terdapat dua proses validasi yang dilakukan oleh organisasi internasional itu . Pertama, melalui validasi off site, yakni tim ICAO melaksanakannya langsung di Montreal dengan mempertimbangkan data-data yang sudah diunggah secara online oleh Kemenhub.

“Kedua, yaon site visit, yang diberi nama ICAO coordination validation mission. Rencananya pada tahun ini, yang of f site evaluasi akan dilaksanakan oleh ICAO Montreal, mudah-mudahan dari situ kami bisa dongkrak angka kita di atas global. Angka globalnya 60%,” ujar Muzaffar.

Sementara itu, Ketua Masyarakat Hukum Udara Andre Rahadian menilai, upaya pemerintah melalui Kemenhub untuk meningkatkan skor keselamatan dan keamanan penerbangan nasional versi ICAO memang sudah dapat dirasakan. Hal tersebut terutama terlihat dari banyaknya jumlah penerbitan regulasi baru terkait penerbangan. Namun demikian, dia mengharapkan, adanya konsistensi dari regulator dalam menerapkan peraturan-peraturan tersebut sehingga peningkatan keselamatan dan keamanan penerbangan bisa terealisasi secara menyeluruh.

“Selain itu, kami juga menyarankan agar regulasi-regulasi baru itu turut mempertimbangkan eksistensimaskapai nasional dalam kaitannya dengan bisnis. Jangan sampai, peraturan itu memberatkan maskapai, apalagi di tengah kondisi perekonomian yang cenderung melambat. Peraturanperaturan itu bisa diterapkan dengan mempertimbangkan time frame(tenggat) yang lebih panjang,” ujar dia.

FAA

Pada bagian lain, Muzaffar menjelaskan, Pemerintah Indonesia pun terus berkonsentrasi untuk meningkatkan standar keselamatan penerbangan yang diterapkan oleh Federal Aviation Administration (FAA) dari yang saat ini kategori II menjadi kategori I.

“Untuk melaksanakan program IASA (International Aviation Safety Assessment), Indonesia diberi slot time pada awal Februari 2016. Jadi, kami masih menunggu lantaran banyak yang antre untuk diaudit,” ungkap Muzaffar.

Menurut dia, semua kebijakan yang diterapkan pemerintah untuk meningkatkan kategori itu sudah berjalan sesuai rencana. Akan tetapi, dia mengimbau, agar semua maskapai penerbangan nasional untuk konsisten melaksanakan setiap regulasi yang sudah diberlakukan regulator.

“Kami berharap maskapai konsistencomplydengan regulasi. Semua prosedur, kami telah buat, tapi kalau tidak comply, bisa jadi problem. Jadi, nanti FAA datang tidak menutup kemungkinan melihat langsung ke airline, akan dicek satu per satu,” tutur dia.

Investor Daily, Senin 9 November 2015, Hal. 6