Presiden: Proyek BIJB Dipercepat

CIREBON, KOMPAS — Pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat di Kertajati, Kabupaten Majalengka, dan Jalan Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi dinilai lambat. Presiden Joko Widodo berjanji mempercepat pembangunan kedua infrastruktur itu karena dibutuhkan untuk mempercepat mobilisasi orang dan barang di Jawa Barat.

Dalam kunjungan ke Cirebon, Jabar, Kamis (13/4), Presiden Joko Widodo menerima laporan perkembangan pembangunan infrastruktur Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) dan Jalan Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi) dari Wakil Gubernur Jabar Deddy Mizwar.

”Pembangunan Bandara Kertajati sudah baik, tetapi kurang cepat. Ini yang mau saya dorong agar lebih cepat,” ujar Presiden.

Presiden meminta pembangunan BIJB selesai dan beroperasi pada akhir 2018 atau paling lambat 2019. Saat berkunjung ke proyek BIJB pada Januari 2016, Presiden menargetkan bandara seluas 1.800 hektar itu dapat dioperasikan akhir 2017 (Kompas, 15/1/2016).

Presiden juga mengatakan akan mendorong percepatan pembangunan Jalan Tol Bocimi. Ia mengatakan, saat ini waktu tempuh Jakarta-Sukabumi butuh waktu enam jam, bahkan sembilan jam.

”Jaraknya pendek, tetapi waktu tempuhnya lama sekali,” ujar Presiden, yang pernah mencoba perjalanan Jakarta-Sukabumi berjarak 116 kilometer.

Namun, Presiden tak merinci langkah percepatan pembangunan kedua infrastruktur tersebut.

Deddy mengatakan, dengan Jalan Tol Bocimi, waktu tempuh Bogor menuju Sukabumi bisa lebih cepat, hanya dua jam. Hal itu diyakini bisa meningkatkan akses kecepatan transportasi di wilayah barat Jabar.

”Kami membutuhkan peran pemerintah pusat dan badan usaha milik negara untuk mempercepat pembangunan ini. Presiden dalam waktu dekat akan meninjau pembangunan Bocimi,” ujar Deddy.

Selain itu, kata Deddy, pembangunan BIJB akan berdampak positif terhadap perekonomian Jabar, khususnya Jabar bagian timur, seperti Cirebon, Majalengka, dan Indramayu. Sebagai provinsi dengan penduduk terbesar di Indonesia, sekitar 47 juta jiwa, Jabar sampai saat ini belum memiliki bandara yang memadai.

Karena itu, diperlukan kehadiran BIJB yang akan memiliki kawasan industri (aerocity) seluas 3.400 hektar. Pembangunan BIJB sudah dirintis sejak 2003, tetapi baru dilanjutkan pembangunan konstruksi sekitar 10 tahun kemudian.

Direktur Utama PT BIJB Virda Dimas Ekaputra yakin bandara dapat beroperasi Februari 2018. Lahan yang sudah dibebaskan seluas 1.000 hektar dari 1.800 hektar yang dibutuhkan.

Virda mengatakan, pembangunan masih sesuai jadwal. Saat ini sudah 40 persen untuk sisi darat. Pembangunan itu meliputi antara lain drainase, jembatan layang, dan terminal. Pembangunan sisi udara yang menjadi tanggung jawab Kementerian Perhubungan sudah mencapai 80 persen, yaitu meliputi landasan pacu sepanjang 2.500 meter dari target 3.500 meter.

Sumber: https://kompas.id/baca/utama/2017/04/15/presiden-proyek-bijb-dipercepat/ (17 April 2017 / 14.27 WIB)